Daftar Periksa Keefektivitasan

Seperti yang kita sudah sama-sama ketahui, Coaching adalah suatu interaksi terus menerus antara dua orang, yaitu Coach dan klien yang membantu klien mengembangkan kemampuannya, mencapai impian-impiannya, dan memberikan hasil yang sukses.

Dan, apa yang terjadi apabila dalam satu atau lebih konteks kehidupan kita yang belum diselesaikan, dan bagaimana hal itu ternyata dapat menguras energi kita, bahkan menguras energi keberhasilan kita? Sesungguhnya, segala hal yang belum beres atau belum selesai akan menguras energi kita untuk mencapai impian-impian kita.

Oleh karena itu, artikel kali ini adalah tentang sesuatu yang sepertinya remeh saja, dan ternyata memberikan dampak yang tidak bisa kita anggap enteng. Hal-hal yang sepatutnya kita, para Coach, dan klien kita, perlu lakukan pertama kali, sebelum kita memikirkan tentang bagaimana mencapai goal-goal kita di masa depan.

Hal-hal apa sajakah itu? Silahkan tinjau daftar di bawah ini dan periksa apakah ada satu atau lebih yang mencerminkan diri kita saat ini. Ikuti saran di daftar tersebut.

  1. Buat sebuah daftar semua hal yang kita perlu kerjakan, dan kerjakan dengan konsisten.
  2. Miliki sebuah buku agenda/organizer. Masukan semua temu janji kita disana. Patuhi janji-janji tersebut.
  3. Bersihkan rumah dan/atau ruang kantor kita.
  4. Bersihkan kendaraan kita, luar dalam. Kirim ke bengkel untuk diperbaiki.
  5. Buang semua barang yang kita tidak gunakan.
  6. Rapihkan file kita dan bersihkan lemari file kita, dan buang file-file yang sudah kita tidak butuhkan lagi.
  7. Bersihkan meja kerja kita. Buang semua barang yang tidak berguna. File-kan kertas-kertas yang penting.
  8. Simpan dan file bukti-bukti pajak kita.
  9. Periksa buku tabungan saldo kita. Cetak buku tabungan kita dengan teratur.
  10. Lunasi semua tagihan kita dengan segera, atau buat kesepakatan kapan kita sanggup melunasinya. Patuhi kesepakakatan tersebut.
  11. Buat daftar semua orang yang berhutang pada kita, atau yang meminjam barang pada kita. Tagih mereka untuk melunasi atau mengembalikannya. Atau, coret orang tersebut dari daftar dan anggaplah sudah lunas.
  12. Buat semua daftar segala kegiatan yang kita telah mulai, sedang berlangsung baik yang baru atau sudah lama, tapi belum selesai. Segera selesaikan kegiatan-kegiatan tersebut, atau putuskan untuk tidak mengerjakannya.
  13. Buat daftar segala kesepakatan/perjanjian yang kita telah buat. Penuhi semua perjanjian tersebut. Negosiasi ulang atau buat kesepakatan baru untuk hal-hal yang kita tidak sanggup memenuhinya.
  14. Ambil tanggung jawab penuh terhadap bisnis/karir/kehidupan kita. Lakukan hanya apa yang kita bisa lakukan, delegasikan sisanya. Setujui hanya pada hal-hal yang kita tahu kita bisa melakukannya. Jangan pernah berjanji terhadap hal-hal yang kita tahu kita tidak akan sanggup mengerjakannya.
  15. Rawat kesehatan tubuh kita.

Nah, kira-kira apakah kita sudah mendapatkan hal-hal yang sesuai dengan diri kita di daftar di atas? Bila ya, segera putuskan untuk mengerjakannya sekarang juga, atau jangan-jangan energi kita akan semakin terkuras untuk hal-hal yang tidak penting dan menghambat kita untuk mencapai impian-impian kita.

Keyakinan yang Keliru dalam Bisnis

Keyakinan, atau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut belief, adalah sebuah konsep yang kita yakini kebenarannya. Pikiran kita membentuk berbagai keyakinan secara otomatis berdasarkan pola-pola dari pengalaman sehari-hari yang kita terima. Melalui berbagai proses dan filterisasi di benak kita, seperti delesi (menghilangkan), distorsi (memutarbalikan/, dan generalisasi (menyamaratakan), maka berbagai pola yang masuk akan membentuk seperangkat keyakingan yang secara bawah sadar mengendalikan berbagai keputusan dan tindakan kita ke depannya.

Dalam berbagai konteks kehidupan, akan selalu ada seperangkat keyakinan tertanam di benak kita. Misal dalam konteks spiritualitas, keluarga, karir, bisnis, dan lain-lain.

Seringkali, berbagai keyakinan yang tertanam di benak kita tidak sepenuhnya akurat. Hal ini disebabkan adanya berbagai proses filterisasi di atas, lagi pula pengetahuan dan pengalaman kita pun terbatas. Bahkan, hampir seluruh keyakinan yang kita miliki bukanlah fakta. Mereka hanya sekedar keyakinan, yang kita anggap benar walaupun belum atau tidak ada data dan fakta yang mendukungnya.

Pada dasarnya, berbagai keyakinan tersebut bersifat netral adanya. Tidak ada yang benar atau salah. Lebih baik meninjaunya dari apakah keyakinan tersebut efektif atau tidak untuk mencapai berbagai tujuan hidup kita. Bila efektif, silahkan kita pertahankan. Bila tidak, buat apa diyakini terus? Keyakinan yang menghambat untuk mengejar berbagai impian kita biasa disebut limiting beliefs. Keyakingan tersebut sebetulnya bisa kok diganti. Caranya bagaimana? Salah satu cara yang mudah adalah dengan memperluas pengetahuan dan pengalaman kita. Dengan belajar, berbagai keyakinan kita akan semakin akurat sejalan dengan semakin luasnya pengetahuan dan pengalaman yang kita dapat dari banyak orang sepanjang kehidupan mereka.

Bila kita bicara dalam konteks bisnis, ada berbagai limiting beliefs yang biasanya ada di pikiran para pemula dalam berbisnis. Berikut adalah beberapa di antaranya yang paling sering menghambat mereka, dan disertai juga padanan keyakinan yang lebih akurat yang akan membantu para pemula menjalankan bisnis pertama mereka:

  1. Memulai sebuah bisnis itu penuh resiko. Ini adalah keyakinan yang paling banyak menghambat banyak orang untuk berbisnis. Dan keyakinan inilah yang paling bertanggung jawab ketika mereka merasa ragu atau menunda-nunda. Sebetulnya, ketidakpastian itu selalu ada dalam berbagai segi kehidupan. Dalam bisnis, ketidakpastian pun dapat dikelola, dan berbagai resikonya dapat diminimalisir. Pernyataan tadi tentunya jauh lebih memberdayakan bukan?
  2. Supaya bisnis kita sukses, kita harus membuat business plan yang sesempurna mungkin. Karena kita ingin sempurna di awal, maka kita pun membuat business plan yang sangat tebal dengan berbagai macam perhitungan dan analisa. Tahukah Anda? Justru hal itu akan membuat kita semakin lumpuh dan bingung. Menulis sebuah business plan memang penting, dan jauh lebih penting bila kita lebih fokus pada memahami elemen-elemen penting dari bisnis kita. Tidak peduli seberapa besar persiapan kita, akan selalu ada kejutan dan perubahan dalam perjalanan melaksanakannya. Untuk itu, segera tulisnya business plan kita dari apa yang kita pahami sejak awal, lalu perbaikilah saat kita melaksanakannya tanpa harus menunggu sampai sempurna.
  3. Memulai sebuah bisnis selalu butuh modal yang besar. Ini juga merupakan keyakinan yang tidak akurat. Modal bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan dalam memulai bisnis. Banyak Pemilik Bisnis berhasil yang tidak diawali dengan modal yang besar. Modal mereka dapatkan secara bertahap sejalan dengan pertumbuhan bisnis mereka. Uang yang sangat besar hanya dibutuhkan ketika kita memang tidak bisa melakukan sesuatu tanpanya, misal membangun pabrik, membeli mesin-mesin produksi sekaligus, dll.
  4. Dalam berbisnis, memiliki jaringan koneksi yang luas itu hal yang utama. Saya mengenal seorang pengusaha yang berhasil di usia muda, bahkan di saat usianya belum mencapai 35 tahun. Beliau memulai bisnis dengan tanpa memiliki jaringan atau koneksi siapa pun. Karena dia anak rantau datang dari desa terpencil ke Jakarta untuk mengubah nasib. Maka, jaringan dan koneksi itu memang penting, dan pengetahuan adalah kunci utamanya agar kita mampu memanfaatkan jaringan dan koneksi sebesar-besarnya.

Di awal sudah dijelaskan bahwa langkah mudah menghilangkan limiting belief dan menggantinya dengan belief yang lebih efektif adalah dengan cara memperluas pengetahuan dan pengalaman kita. Dengan banyak belajar, baik itu dari buku, seminar, pendampingan bisnis, dan lain-lain, merintis usaha pertama kita akan menjadi lebih mudah daripada yang awalnya kita bayangkan. Daripada membuang banyak waktu dan tenaga dengan diliputi rasa khawatir dan ragu, dengan banyak belajar akan membuat kita bebas dari rasa takut dan mulai membuat kemajuan.

3 Syarat untuk Headline yang Benar

Pernahkah Anda menerima selebaran brosur yang diberikan di tempat umum? Misal ketika Anda sedang menuruni atau naik escalator di ujungnya Anda disambut oleh seseorang dengan seragam tertentu dan senyum cerah menyerahkan selembar brosur. Lalu apa yang Anda lakukan? Anda membaca sekilas, dan mungkin Anda hanya melipatnya, membawanya sebentar dan membuangnya ke tempat sampah? Seberapa sering Anda membaca brosur tersebut sampai selesai? Bahkan Anda tertarik terhadap produk yang ditawarkan? Sering? Jarang?

Seperti umumnya diketahui, brosur adalah salah satu media pemasaran dan iklan yang paling sering dipakai untuk mendatangkan banyak prospek. Walaupun sangat sering digunakan, namun masih banyak pemilik bisnis yang kurang paham bahwa mendisain sebuah brosur tidak bisa sembarangan. Disain brosur yang efektif adalah apabila ketika menerimanya, seorang suspek langsung menangkap hal yang menarik perhatiannya dan terus membacanya hingga selesai.

Bagian utama brosur yang sangat penting, yang sangat berperan untuk menangkap mata seseorang yang meliriknya saat 1-2 detik pertama, adalah bagian headline (tajuk brosur). Sebegitu pentingnya headline brosur Anda, maka ada beberapa syarat dalam menulisnya sehingga headline tersebut mampu menarik perhatian orang yang menjadi target marketnya. Berikut adalah tiga syarat yang paling praktis untuk diterapkan :

  1. Buat headline Anda yang berfokus pada pembaca (suspek) dan masalah yang dia sedang hadapi, kemungkinan solusi, dan/atau keuntungan utama yang dia akan dapatkan dari produk atau jasa Anda. Kebanyakan headline hanya menampilkan tentang Anda atau Perusahaan Anda. Sesungguhnya Anda dan Perusahaan Anda tidak penting bagi mereka. Mereka hanya tetarik pada solusi dan keuntungan yang mereka bisa dapatkan.
  2. Headline brosur Anda hanya menuliskan hal-hal yang memang juga dijabarkan pada badan/isi brosur Anda. Apabila apa yang tercantum di headline berbeda dengan apa yang ditulis di badan/isi brosur, maka orang yang membacanya akan merasa tertipu dan kecewa karena membuang waktu mereka saja.
  3. Gunakan kata-kata dan kalimat sederhana dan umum untuk dipahami. Hindari jargon-jargon teknis atau kata-kata aneh yang menunjukan seberapa keren atau hebat diri Anda. Ingat, tidak semua suspek yang membaca brosur Anda memiliki tingkat pemahaman yang setara. Selalu gunakan istilah yang mudah dipahami jauh lebih berarti ketimbang Anda memamerkan penguasaan kosa kata Anda yang canggih. Ingat, tujuan kita bukanlah memenangkan lomba disain brosur terhebat, namun mendatangkan prospek yang minat dengan produk atau jasa kita sebanyak mungkin.

Apa yang telah dijabarkan di atas adalah poin-poin yang sederhana namun sangat penting untuk dipegang saat Anda sedang mendisain sebuah headline yang efektif untuk menarik perhatian prospek Anda dan membuat mereka membaca brosur Anda hingga selesai, dan akhirnya berakhir dengan penjualan yang sukses.

5 Bagian Penting dari Sebuah Bisnis

Bisnis sudah menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari. Kita tidak mungkin terlepas dari apa yang namanya aktivitas berbisnis. Saat kita menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan, artinya kita melibatkan diri dalam suatu bisnis yang menjadi kegiatan di perusahaan tersebut. Ketika kita membeli barang di toko, barang tersebut adalah hasil dari aktivitas bisnis yang kompleks yang memberikan nilai tertentu kepada para pembelinya.

Sudah banyak definisi tentang bisnis. Berbagai definisi tersebut sangat beragam, dari mulai yang paling sederhana hingga yang sangat rumit dipahami. Dari sekian banyak penjabaran mengenai bisnis, ada salah satu definisi yang saya sukai, yaitu yang dicetuskan oleh Josh Kaufman, seorang pengarang buku The Personal MBA.

Menurut beliau, setiap bisnis bisa sukses karena :

  1. Bisnis tersebut menciptakan atau menyediakan produk yang berharga atau bernilai;
  2. Produk tersebut, selain memiliki nilai, haruslah yang dibutuhkan orang;
  3. Orang yang membutuhkan produk tersebut mau membeli dengan harga yang sesuai;
  4. Kebutuhan dan harapan orang yang telah menggunakan produk tersebut terpenuhi;
  5. Bisnis tersebut mendapatkan arus kas dari produk yang dijual hingga mampu membuat bisnis tersebut bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Agar hal-hal di atas terjadi, maka sebuah bisnis, apakah itu bisnis rumahan, UKM, ataukah bisnis raksasa, haruslah memiliki 5 proses utama di dalamnya, yaitu :

  1. Proses Penciptaan Nilai. Nilai yang berharga di mata seseorang tidak mungkin kita ciptakan tanpa terlebih dahulu mengetahui apa yang dibutuhkan orang tersebut. Jadi sangatlah penting untuk mencaritahu apa yang dibutuhkan orang-orang sekarang atau di masa depan, setelah itu kita membuat produk yang memiliki nilai dan dibutuhkan mereka.
  2. Proses Pemasaran. Apabila produk tersebut memang sudah dibutuhkan, maka kita perlu menarik perhatian banyak orang sehingga mereka mengetahui bahwa kita menyediakannya. Terkadang, kebutuhannya belum ada, tapi bukan tidak mungkin kita menciptakan kebutuhan itu dan membuat mereka sadar bahwa mereka ternyata membutuhkannya.
  3. Proses Penjualan. Orang yang sudah mengetahui dan tertarik dengan produk kita belum tentu langsung mau membelinya. Tugas kita adalah secara proaktif memastikan bahwa mereka memutuskan jadi membelinya.
  4. Proses Penyampaian Nilai. Ketika seseorang menyadari bahwa mereka membutuhkan produk yang kita miliki, dan kita telah menjanjikan nilai yang mereka akan dapatkan, sudah seharusnyalah kita memastikan agar nilai yang kita sudah janjikan itu memang mereka terima atau rasakan saat menggunakan produk kita. Hal ini berujung pada kepuasan yang mereka rasakan ketika kebutuhan mereka kita penuhi. Apabila mereka puas, ada kemungkinan mereka akan datang kembali untuk membeli, bahkan mereka akan merekomendasikan produk kita kepada rekan dan kenalan mereka.
  5. Proses Keuangan. Aktivitas jual beli yang telah terjadi akan menghasilkan uang. Uang yang kita terima perlu kita kumpulkan dan kita kelola sehingga terjadi arus kas yang mendukung keberlangsungan bisnis kita.

Intinya, kita perlu memahami kelima proses mendasar di atas. Ketika kita baru memulai sebuah bisnis, menjabarkannya di bisnis kita adalah sebuah langkah awal yang tepat. Agar kita ingin bisnis kita berhasil, kita perlu memastikan tiap proses ini berjalan dengan efektif.

5 Strategi untuk Membangun Komitmen pada Perusahaan Anda

Mengapa ada perusahaan yang bisa memiliki pelanggan yang berkomitmen jangka panjang sementara peruashaan lainnya berjuang untuk tidak kehilangan pelanggan mereka? Mengapa ada pegawai yang begitu berdedikasi dengan perusahannya sementara pegawai di perusahaan lain hanya sekedar hadir dan bekerja?

John Jantsch, pengarang buku “The Commitment Engine”, mengungkapkan 5 strategi besar untuk menjawab pertanyaan di atas. Startegi-strategi tersebut adalah :

 1.     Bangunlah Bisnis Anda dengan Tujuan yang Kuat dan Jelas

Orang-orang yang berinteraksi dengan bisnis Anda akan cenderung berkomitmen bila bisnis Anda memiliki tujuan yang kuat dan jelas. Mereka merasa yakin bahwa bisnis Anda akan memberikan yang terbaik buat mereka.

2.     Pahamilah bahwa Budaya Berarti Brand Anda

Ciptakan budaya perusahaan Anda sebagi brand bisnis Anda, sehingga team dan pelanggan Anda akan mendukungnya.

3.     Pimpinlah Perusahaan Anda dengan Memberikan Cerita tentang Bisnis Anda

Anda akan cenderung menarik orang-orang yang cocok menjadi bagian dari team Anda dan membuat mereka berkomitmen dengan cara menceritakan tentang mengapa Anda menjalankan bisnis Anda.

4.     Perlakukan Team Anda seperti Pelanggan Anda

Dengan memperlakukan team Anda sebagaimana Anda memperlakukan pelanggan Anda, maka budaya internal di perusahaan Anda akan tercipta dengan sehat.

5.     Layanilah Pelanggan yang Anda Hormati

Pertama Anda perlu mengenali pelanggan Anda, dan hormati mereka. Hanya dengan cara itu Anda akan memiliki hubungan yang kuat dan tulus.

 Dengan menjalankan kelima strategi di atas, lambat laun Anda akan menikmati loyalitas dari pelanggan dan team Anda.